UTS Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat


1.      Jelaskan konsep pendekatan STM dalam pembelajaran secara filosofis dan praktis, sehingga dapat tergambar bahwa pendekatan ini efektif untuk mencapai kompetensi dan menanamkan nilai dalam memanfaatkan sain dan teknologi yang “arif” bagi masyarakat.
Secara filosofis STM (Sains Teknologi Masyarakat) menganut pandangan konstruktisivisme dan pragmantisme, bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

a.       Pendekatan Konstruktivisme
Konstruktivisme (constructivisvism) merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan STM, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit). Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
Dengan dasar, itu pembelajaran harus dikemas menjadi proses “menkonstruksi” bukan “menerima” pengetahuan. dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru. Landasan berfikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektivis, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivis, strategi “memperoleh” lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah menfasilitasi proses tersebut dengan :
1)       menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa.
2)       memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan
3)        menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
Pendekatan konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:
1)       Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
2)       Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
3)       Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
4)       Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
5)       Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuanilmiah.
6)       Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik minat pelajar.

b.      Pendekatan Pragmantisme
Pragmatisme berpandangan bahwa pengetahuan yang diperoleh hendaknya dimanfaatkan untuk mengerti permasalahan yang ada dimasyarakat. Selanjutnya tindakan apa yang dapat dilakukan untuk kebaikan, peningkatan dan kemajuan masyarakat dan dunia. Pragmatisme menjadi penengah antara aliran idealisme dan aliran realisme dan menggabungkan hal-hal yang bermannfaat dalam kedua aliran tersebut.
Dalam pembelajaran, pragmatisme menitikberatkan pada pandangan bahwa seharusnya hasil belajar dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, termasuk kemampuan untuk menanggapi dampak positif maupun negatif kemajuan teknologi yang berkembang dengan sangat cepat. Oleh karenanya pembelajaran harus dilakukan dalam konteks kebutuhan masyarakat dengan lebih dahulu menampilkan isu-isu di masyarakat yang berkaitan dengan topik yang akan dikaji atau dibahas.
Pendekatan STM adalah sebuah pendekatan yang dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sains dan teknologi masuk dan merubah proses-proses sosial di masyarakat, dan bagaimana situasi sosial mempengaruhi perkembangan sains dan teknologi
Berdasarkan pengertian STM sebagaimana diungkapkan di bagian sebelumnya, maka dapat diungkapkan bahwa yang menjadi tujuan pendekatan STM ini secara umum adalah agar para peserta didik mempunyai bekal pengetahuan yang cukup sehingga ia mampu mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat dan sekaligus dapat mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang diambilnya.
Pendekatan STM dikembangkan dengan tujuan agar :
1)  Peserta didik mampu menghubungkan realitas sosial dengan topik pembelajaran di dalam kelas
2) Peserta didik mampu menggunakan berbagai jalan/perspektif untuk mensikapi berbagai isu/situasi yang berkembang di masyarakat
3) Peserta didik mampu menjadikan dirinya sebagai warga masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial.
Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat memberikan harapan untuk menciptakan manusia yang berkualitas dan peka terhadap masalah-masalah yang timbul di masyarakat (Rusmansyah, 2003: 1).
Referensi :

Poedjiadi, A. 2005. Sains Teknologi Masyarakat (Model Pembelajaran Konstektual Bermuatan Nilai). Bandung : PT Remaja Rosdakarya bekerjasama dengan program pasca sarjana UPI Bandung.

Rusmansyah dan Irhasyuarna. 2001. Implementasi Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam Pembelajaran Kimia di SMU Negeri 1 Kota Banjarmasin.




2.      Bagaimana STM sebagai pendekatan pembelajaran dapat diaplikasikan pada pembelajaran IPS? Jelaskan secara rinci mulai dari konsep Pendekatan STM sampai pada aplikasi dalam pembalajaran.
STM adalah suatu pendekatan yang mencakup seluruh aspek pendidikan yaitu tujuan, topik/masalah yang akan dieksplorasi, strategi pembelajaran, evaluasi dan persiapan kinerja guru. Pendekatan ini melibatkan siswa dalam menentukan tujuan, prosedur pelaksanaan, pencarian informasi dan dalam evaluasi. Tujuan utama pendekatan ini adalah untuk menghasilkan lulusan yang cukup mempunyai bekal pengetahuan sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat sehingga dapat mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang diambilnya (NTSA Report, 1991).
Menurut La Maronta Galib (2003) Model STM adalah belajar mengajarkan sains dan teknologi dalam konteks pengalaman dan kehidupan sehari-hari, dengan fokus isu-isu/masalah-masalah yang sedang dihadapi masyarakat, baik bersifat lokal, regional, nasional, maupun global yang memiliki komponen sains dan teknologi. Hadiat (1996) menyatakan bahwa istilah STM yang dibuat John Ziman dalam bukunya berjudul Teaching and Learning about Science and Society (1980) adalah suatu bentuk pengajaran yang tidak hanya menekankan pada pengusaan konsep-konsep sains saja tetapi juga menekankan pada peran sains dan teknologi di dalam berbagai kehidupan masyarakat dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial siswa terhadap dampak-dampak sains dan teknologi yang terjadi dimasyarakat. NTSA (National Science Teachers Association dalam Yager 1993:637) mendefinisikan bahwa pendekatan STM merupakan belajar dan mengajar mengenai sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia.
Dengan konteks pengalaman manusia, NTSA telah mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperhatikan dalam STM (Poedjiadi, A, 2005) yaitu:
a.       Menggunakan konsep-konsep sains, keterampilan proses dan nilai apabila mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
b.       Mengetahui bagaimana masyarakat mempengaruhi sains dan teknologi serta bagaimana sains dan teknologi masyarakat.
c.       Mengetahui bahwa masyarakat mengontrol sains dan teknologi melalui pengelolaan sumber daya alam.
d.       Menyadari keterbatasan dan kegunaan sains dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.
e.       Memenuhi sebagian besar konsep-konsep dasar sains, hipotesis dan teori sains dan mampu menggunakannya.
f.        Menghargai sains dan teknologi sebagai stimulus intelektual yang dimilikinya.
g.       Mengetahui bahwa pengetahuan ilmiah tergantung pada proses-proses inquiri dan teori-teori.
h.       Membedakan fakta-fakta ilmiah dan opini pribad.
i.         Mengakui asal-usul sains dan mengetahui bahwa pengetahuan ilmiah adalah tentatif.
j.         Mengetahui aplikasi teknologi dan pengambilan keputusan menggunakan teknologi.
k.       Memiliki pengetahuan dan pengalaman cukup untuk memberikan penghargaan pada penelitian dan pengembangan teknologi.
l.         Mengetahui dan menggunakan sumber-sumber tersebut dalam pengambilan keputusan.
Mengenai hubungan antara sains dan teknologi serta keterkaitannya dengan tujuan-tujuan pendidikan, Trowbridge dan Bybee (1990) dan Yager (1992) (dalam La Maronta Galib, 2002) menyatakan bahwa dalam suatu paradigma bahwa sains (saintis) diawali dengan bertanya kepada alam atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang dunia kealaman (natural world), sedangkan kegiatan teknologi (teknolog) diawali dari masalah-masalah yang sedang dihadapi manusia dalam beradaptasi dengan lingkungan/alam.
Secara operasional, pembelajaran dengan model STM memiliki karakteristik sebagai berikut :
a.       Diawali dengan isu-isu/masalah-masalah yang sedang beredar serta relevan dengan ruang lingkup isi/materi pelajaran dan perhatian, minat, atau kepentingan siswa.
b.       Mengikutsertakan siswa dalam pengembangan sikap dan keterampilan dalam pengambilan keputusan serta mendorong mereka untuk mempertimbangkan informasi tentang isu-isu sains dan teknologi.
c.       Mengintegrasikan belajar dan pembelajaran dari banyak ruang lingkup kurikulum.
d.       Mengembangkan literasi sains, teknologi, dan sosial.
(La Maronta Galib, 2002)
Tiga landasan penting dari model STM (Iskandar, 1991; Susilo, 1994; Poedjiadi, 1994; Hidayat, 1996 dalam Rusmansyah) yaitu:
a.       Adanya keterkaitan yang erat antara sains, teknologi dan masyarakat.
b.      Proses belajar mengajar menganut pandangan konstruktivisme (siswa membentuk atau membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan).
c.       Dalam pengajarannya terkandung tiga ranah kreativitas, ranah hubungan dan aplikasi.
Poedjiadi, A (2005) menyatakan bahwa model STM adalah suatu pengetahuan interdisiplin yang melibatkan sains sebagai pengetahuan kealaman, teknologi yang menghasilkan produk yang digunakan oleh masyarakat dan kehidupan masyarakat dan termasuk kesejahteraannya. Masyarakat yang menggunakan produk teknologi perlu memiliki pemahaman mengenai sains yang dapat dijadikan bekal untuk memelihara produk teknologi agar selalu berfungsi dengan optimal dan dapat mengatasi kesulitan yang tidak terlalu besar ini dapat direalisasikan melalui siswa di sekolah atau melalui pendidikan non formal bagi masyarakat.
Adapun tahap-tahap dari pendekatan STM (Poedjiadi, A, 2005) yaitu sebagai berikut :
a.       Tahap apersepsi yaitu mula-mula dikemukakan isu-isu atau masalah aktual yang ada dimasyarakat dan dapat diamati peserta didik.
b.      Tahap pembentukan konsep yaitu peserta didik membangun atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui observasi, eksperimen, diskusi, dan lain-lain.
c.       Tahap aplikasi konsep atau penyelesaian masalah yaitu menganalisa isu-isu atau masalah yang telah dikemukakan diawal pembelajaran berdasarkan konsep yang telah dipahami sebelumnya.
d.      Tahap pemantapan konsep, yaitu guru memberikan pemantapan konsep-konsep agar tidak terjadi kesalahan pada diri pendidik.
e.      Tahap evaluasi, pada tahap ini penggunaan portofolio atau data pribadi peserta didik sangat disarankan.

Pendekatan STM dikembangkan dengan tujuan agar :
a.       Peserta didik mampu menghubungkan realitas sosial dengan topik pembelajaran di dalam kelas
b.       Peserta didik mampu menggunakan berbagai jalan/perspektif untuk mensikapi berbagai isu/situasi yang berkembang di masyarakat berdasarkan pandangan ilmiah
c.       Peserta didik mampu menjadikan dirinya sebagai warga masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial.

Penerapan Pendekatan STM
Pendekatan STM, sesuai dengan pengertian dan tujuan yang diungkapkan sebelumnya, dalam penerapannya di dalam kelas sesungguhnya tidak membutuhkan konsep ataupun proses yang terlalu unik. Sebagaimana menurut pandangan National Science Teachers Association (1990:1), there are no concepts and/or processes uniqe to STS. Hanya saja, ada beberapa prinsip yang harus dimunculkan dalam pendekatan STM menurut National Science Teachers Association (1990:2) yaitu sebagai berikut:
a.       Peserta didik melakukan identifikasi terhadap persoalan dan dampak yang ditimbulkan dari persoalan tersebut yang muncul di sekitar lingkungannya
b.       Menggunakan sumberdaya lokal untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam penyelesaian persoalan yang telah berhasil diidentifikasi
c.       Menfokuskan pembelajaran pada akibat yang ditimbulkan oleh sains teknologi masyarakat bagi peserta didik
d.       Pandangan bahwa pemahaman terhadap konten sains lebih berharga daripada sekedar mampu mengerjakan soal
e.       Adanya penekanan kepada keterampilan proses yang dapat digunakan peserta didik untuk menyelesaikan persoalannya sendiri
f.        Adanya penekanan pada kesadaran berkarir, terutama karir yang berhubungan dengan sains  teknologi masyarakat
g.       Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pengalaman tentang aturan hidup bermasyarakat yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang telah diidentifikasi.
Referensi :
Galib, L. 2002. Pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat dalam pembelajaran Sains di sekolah Jurnal Pendidikan dan kebudayaan.No 034. Tahun ke 8 bulan januari: hal 38.

Poedjiadi, A. 2005. Sains Teknologi Masyarakat (Model Pembelajaran Konstektual Bermuatan Nilai). Bandung : PT Remaja Rosdakarya bekerjasama dengan program pasca sarjana UPI Bandung.

Rusmansyah dan Irhasyuarna. 2001. Implementasi Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam Pembelajaran Kimia di SMU Negeri 1 Kota Banjarmasin.

 
3.      Buatlah satu contoh skenario pembelajaran dengan pendekatan STM dengan KD dan jenjang yang dipilih masing-masing!
RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran    :    Geografi
Topik/Kegiatan
   :    Lokasi Industri
Unti
                   :    SMA
Kelas/Semester
  :    XII / 1
Pertemuan
         :    25 s. d 30
Alokasi waktu
     :    4 x 45 menit
A.  Kompetensi Dasar
   Menganalisis lokasi industri dan pertanian dengan pemanfaatan peta
B.  Indikator
         Mengidentifikasi manfaat peta dalam menganalisis lokasi industria
        Mengidentifikasi manfaat peta dalam menganalisis lokasi pertanian pertanian
        Membuat laporan diskusi tentang pemanfaatan peta dalam menganalisis lokasi industri dan pertanian
C.      Materi Pokok
   Pemanfaatan peta dalam kajian aspek-aspek pertanian
D.      Skenario Pembelajaran
         Penjelasan tentang dimensi kompetensi, indikator, alokasi waktu dan skenario pembelejaran.
        Pre-test
         Eksplorasi pemahaman peserta berkenaan dengan lokasi industri dan pertanian dengan pemanfaatan peta.
         Penyampaian materi pelajaran
-          Menggunakan pendekatan STM (Sains Teknologi Masyarakat), yaitu lebih mengutamakan kemampuan siswa untuk mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat dan sekaligus dapat mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang diambilnya.
-          Diskusi tentang pemanfaatan peta dalam menganalisis lokasi industri dan pertanian.
         Secara kelompok siswa membuat laporan tentang pemanfaatan peta dalam menganalisis lokasi industri dan pertanian
         Guru membuat kesimpulan
         Post test
E.  Penilaian
    Jenis tagihan : Tugas individu, tes tertulis
    Bentuk tagihan : Uraian berstruktur
F. Media
    Citra penginderaan jauh
   Foto udara
   Komputer
    LCD
   Buku-buku yang relevan


Mengetahui,
Kepala sekolah





______________________
Bandung, 21 April 2010
Guru Mata Pelajaran





Asep Ginanjar, S.Pd